Sebelumnya saya mohon maaf jika tulisan ini menambah — satu lagi — polusi informasi di dunia maya. Seperti kita tahu bahwa tulisan seputar pertanyaan dan pernyataan tentang penting-tidaknya validasi dokumen telah banyak beredar baik di kalangan narablog lokal maupun luar.
Kembali kepada pertanyaan tentang perlu tidaknya validasi, ada tiga jawaban yaitu perlu, tidak perlu, dan tidak tahu/tidak peduli. Jawaban saya, perlu atau tidak semuanya tergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Validator hanyalah alat bantu yang dapat digunakan untuk mempermudah pemeriksaan dokumen. Kesalahan penulisan tag adalah hal yang biasa. Kita mungkin sering lupa memberikan tag penutup atau salah tulis (typo). Permasalahan semacam inilah yang penting untuk diperhatikan. Coba perhatikan contoh kode berikut ini:
<p>Ini adalah paragraf pertama…</p> <p><a href="#"><img src="images.jpg" alt="" /></p> <p>Ini adalah paragraf kedua… </p>
Kode tersebut tidak valid, terlihat bahwa tidak ada penutup untuk tag <a>. Kira-kira apa yang akan terjadi? Ya benar! Paragraf kedua akan ditampilkan sebagai hyperlink, tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
Khusus untuk kasus Blogspot — dan juga Tumblr — saya menilai validasi memang tidak perlu dipaksakan. Mungkin beberapa fitur seperti kotak komentar dan navbar memang menggunakan kode-kode yang tidak valid, tetapi hal tersebut tidak menjadi masalah besar. Yang perlu diperhatikan adalah bagian konten, karena disinilah tempat terjadinya error dokumen yang lebih banyak dapat terjadi. Jangan sampai kasus salah penulisan kode terdapat pada konten yang anda tulis sehingga menyebabkan gangguan pada penyampaian informasi.
Saya ingin menggarisbawahi bahwa pemahaman kita tentang penulisan dokumen HTML jauh lebih penting daripada sekedar validasi dokumen oleh validator. Bukan masalah perlu/penting tidaknya, tetapi sebagai jaminan bahwa kita menyajikan konten dengan baik, menggunakan struktur dokumen yang baik, dan yang terpenting adalah penyampaian informasi dengan baik.
Ah ya, validasi/standard itu baik.