Apakah dengan tidak menggunakan banyak gambar — atau sama sekali tidak menggunakan gambar — pada layout web/blog dapat diartikan mengusung tema minimalis?
Saat ini desain web/blog minimalis/(simplicity design) sepertinya telah menjadi trend. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya web/blog yang mengusung tema minimalis, dengan permainan whitespace & padding yang lebih lebar untuk menciptakan kesan yang simpel & elegan.
Siapa yang tidak menyukai konsep desain tersebut? Dengan berfokus pada tipografi & konten, web/blog menjadi lebih nyaman untuk dibaca, lebih usable. Pengunjungpun tidak perlu dikejutkan dengan annoying modal boxes — versi terbaru dari annoying popup windows — atau diganggu dengan banner iklan yang bertebaran seperti sampah. User ingin membaca dan mereka dapat melakukannya dengan nyaman, sebuah konsep interaktivitas yang menyenangkan.
Jika konsep desain minimalis memiliki arti: simpel, elegan, mudah dan nyaman dibaca dan menyenangkan lalu bagaimana konsep desain yang tidak minimalis? Coba tebak, jika konsep “desain tidak minimalis” adalah negasi dari minimalis, berarti konsep tersebut memiliki arti: tidak simpel, tidak elegan, susah dibaca, tidak nyaman dan menyebalkan. Dengan kata lain, adalah konsep desain yang buruk.
Minimalisme bukan berarti kita harus menggunakan CSS seminimal mungkin, kecepatan muat secepat mungkin, gambar sesedikit mungkin dan mengharamkan JavaScript. Minimalisme lebih menekankan pada manajemen tata ruang. Konsep desain minimalis bertujuan agar kita dapat memanfaatkan ruang yang ada secara optimal tanpa kehilangan fungsi, kegunaan dan estetika. Minimalisme adalah bagian dari konsep desain yang baik.
Bacaan
- It Isn't Minimalism — Usability Post
- Minimalism is Mandatory — Drawar