Tipografi

Membuat desain tipografi untuk sebuah website mungkin tidak semudah yang dibayangkan. Banyak sekali pakar tipografi yang menyatakan bahwa tipografi tidak sekedar memilih font dan menggunakannya, tipografi adalah komponen visual dari kata-kata tertulis (Butterick, 2010).

Penerapan tipografi yang baik sangat bermanfaat dalam desain sebuah web/blog. Tipografi yang baik membawa keteraturan dan meningkatkan keterbacaan (Wagner, 2009). Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat desain tipografi web yang baik mungkin cukup banyak. Tetapi dalam membuat tulisan pada sebuah blog kita tidak harus menggunakan semuanya. Beberapa poin yang menurut saya penting adalah ukuran, spasi, dan konsistensi penulisan. Berikut ini tips singkat mengenai pembuatan desain tipografi untuk sebuah paragraf.

1. Ukuran

Ukuran font yang terlalu kecil mejadikan tulisan lebih sulit untuk dibaca, tetapi penggunaan ukuran besar belum tentu efektif―terutama untuk pengguna layar kecil semacam mobile browser. Penggunaan ukuran relatif―misal em― mungkin lebih efektif daripada ukuran absolut―misal px―karena lebih fleksibel. Menurut Reichenstein (2006), ukuran 100% adalah standard tulisan yang mudah dibaca untuk sebuah website.

Selain ukuran font, lebar paragraf juga harus diperhatikan. Paragraf yang terlalu lebar dapat membuat pembaca cepat bosan dan lelah. paragraf yang lebar berarti mendominasi layar, selain itu pandangan mata harus bergeser cukup jauh saat berganti baris.

Paragraf dengan ukuran yang terlalu sempit dapat menyebabkan alokasi ruang menjadi tidak efisien. Penggunaan kata yang panjang―Tanpa ada pemenggalan kata―dapat merusak desain layout. Usahakan menggunakan lebar paragraf yang cukup, tidak terlalu lebar/sempit.

Tidak ada aturan baku yang mengharuskan penggunaan ukuran lebar tertentu. Menurut Boulton (2005), aturan yang baik untuk lebar paragraf adalah sebanyak 52-78 karakter termasuk spasi.

2. Spasi

Spasi menjadi hal yang sangat penting dalam menulis sebuah paragraf. Spasi dapat berarti jarak antar karakter (huruf), jarak antar baris, & jarak antar paragraf yang semuanya harus kita atur sedemikian rupa sehingga tulisan menjadi lebih nyaman dibaca.

Untuk spasi antar karakter―Biasa disebut kerning―mungkin tidak perlu diatur ulang lagi, tetapi untuk spasi antar baris dan antar paragraf sebaiknya kita perhatikan. Kita tahu tulisan yang terlalu rapat jaraknya terasa kurang nyaman untuk dibaca. Selain itu, spasi yang proporsional memberikan nilai estetika sendiri.

Dalam mengatur spasi, yang penting untuk diperhatikan adalah ritme vertikal (jarak dan susunan teks yang menurun). Menurut Rutter (2006) ritme vertikal ditentukan oleh tiga faktor yaitu ukuran font (font size), tinggi (line height) dan margin/padding. Saya sendiri merekomendasikan untuk menggunakan spasi sebesar 1,5―Menurut saya ideal, tidak terlalu rapat dan tidak terlalu longgar.

3. Konsistensi

Konsistensi penulisan menjadi hal yang sangat penting agar tidak membingungkan pembaca. Ada baiknya jika kita mengikuti standar penulisan. Sebagai contoh, sudah seharusnya istilah asing dicetak miring, tautan lebih baik memiliki ciri yang konsisten―Misalnya menggunakan garisbawah & warna berbeda, dan yang terpenting adalah jangan menggunakan font yang cempuraduk. Misalnya kita menggunakan typeface serif untuk paragraf pertama kemudian sans-serif untuk paragraf berikutnya. Contoh lain―yang mungkin lebih buruk―adalah menggunakan font-font dekoratif yang susah dibaca.

4. Implementasi

Saya telah menerapkan teori-teori tersebut pada blog ini. Seperti yang anda lihat, paragraf dalam blog ini menggunakan font tipe serif 1em, dengan lebar 560px, 1.5 spasi. Secara teknis, CSS yang saya gunakan untuk paragraf kurang lebih seperti contoh berikut:

html {
font-size:100%; 
}

body {
font-family:Cambria, Georgia, serif;
font-size:1em; 
}

a, a:visited {
color:#333;
text-decoration:underline; 
}

a:hover, a:focus {
color:#600;
text-decoration:underline; 
}

p {
line-height:1.5em;
margin:1.5em 0;
padding:0;
width:560px; 
}

5. Kesimpulan

Saya tidak membahas penggunaan typeface atau font disini. Ketiga hal tersebut (ukuran, spasi & konsistensi) saya pikir adalah dasar-dasar yang harus diperhatikan dalam membuat desain tipografi sedangkan masalah pemilihan font cenderung subyektif menurut kesukaan masing-masing―Tidak ada gunanya berdebat mana yang lebih baik antara serif dengan sans-serif ;).

Mungkin kita telah dimanjakan dengan teknologi embedded font―Semacam Cufón, SiFR, @font-face―yang memungkinkan untuk menggunakan font yang bagus dan kita sukai, tetapi tanpa penggunaan ukuran, spasi dan konsistensi penulisan yang baik saya rasa tidak akan melahirkan desain tipografi yang baik. Saya setuju dengan pendapat bahwa desain tipografi tidak hanya sekedar memilih dan menggunakan font saja. Kita dapat membuat desain tipografi yang baik meskipun “hanya” menggunakan font standar untuk web semacam Verdana atau Georgia.

6. Referensi

Boulton, M., 2005, The Personal Disquiet of Mark Boulton:Five Simple Steps to Better Typography, [online], (http://www.markboulton.co.uk/journal/comments/five-simple-steps-to-better-typography, diakses tanggal 11 Juni 2010)

Butterick, M., 2010, Typography For Lawyer:What Is Typography?, [online], (http://www.typographyforlawyers.com/?p=23, diakses tanggal 11 Juni 2010)

Reichenstein, O., 2006, Information Architects:The 100% Easy-2-Read Standard, [online], (http://informationarchitects.jp/100e2r/, diakses tanggal 11 Juni 2010)

Rutter, R., 2006, 24 Ways:Compose to a Vertical Rhythm, [online], (http://24ways.org/2006/compose-to-a-vertical-rhythm, diakses tanggal 11 Juni 2010)

Wagner, M., 2009, Webdesigner Depot:5 Simple Ways to Improve Web Typography, [online], (http://www.webdesignerdepot.com/2009/03/5-simple-ways-to-improve-web-typography/, diakses tanggal 11 Juni 2010)

Comments

powered by Disqus